Showing posts with label Sepakbola. Show all posts
Showing posts with label Sepakbola. Show all posts

09 November 2020

Aoki Densetsu Shoot!: Ketika Drama Berpadu dengan Logika


Hai gaes! Kembali bagi dengan saya Sandy Firdaus alias Sonay alias sandy_kribo di blog hamblah ini. Yah, akhirnya ada lagi juga kesempatan buat isi tulisan di sini, setelah terakhir saya ngisi dengan pembahasan yang sok berat, yaitu "Pertandingan Sepak Bola Adalah Karya Sastra". Ka mana atuhh!!

Jadi, tulisan saya ini akan berkelindan dengan apa yang pernah dituliskan oleh Bunyanum Marsus Zakky alias Zakky BM beberapa waktu lalu. Setelah sekian lama hiatus, pria tampan asal Serang ini akhirnya menulis kembali di blog ini, dengan tema kesukaannya: anime.

Dalam tulisannya, Zakky menyinggung masa kecilnya dengan menuliskan soundtrack dari anime Aoki Densetsu Shoot!. Memang, kalau saya dengar-dengar lagi lagunya, menarik semua kenangan saya ketika masih SD. Saat itu, Shoot! ditayangkan di TV7, dan saya kerap menyaksikannya selepas sholat maghrib dan ngaji.

Shoot! ketika itu bersanding dengan anime-anime bola yang rutin ditayangkan TV7, seperti Captain Tsubasa versi lawas (bukan versi remake yang muncul sekarang), serta Whistle!, yang menceritakan sosok Sho Kazamatsuri. Nah, pada 2016 silam, saya iseng-iseng menyaksikan anime ini lagi. 

Tidak cuma anime, saya pun membaca semua komik Shoot! yang terbagi dalam empat bagian, mulai dari Shoot!, Shoot! Hot Challenge, Shoot! In Memory, dan Shoot! The Legend of New Age. Semua manga ini saling berhubungan, dan akhirnya menjadi satu kesatuan cerita yang apik.

Nah, jadi bagaimana sih, sebenarnya manga dan anime Shoot! itu? Sesuai dengan apa yang Zakky bilang dalam tulisannya, saya akan sedikit mengulasnya di sini.

***

Sebenarnya, cerita dari manga dan anime Shoot! ini berpusat pada tiga tokoh utama, yaitu Tanaka Toshihiko (Toshi), Hiramatsu Kazuhiro, dan Shiraishi Kenji. Ketiganya merupakan atlet sepak bola andal yang kebetulan bertemu di SMP Kakenishi, yang ingin masuk Kakegawa karena mengidolakan Yoshiharu Kubo.


Sisanya, cerita-cerita dalam manga dan anime Shoot! ini terbilang ringan untuk diikuti. Semua seputar masa pencarian jati diri semasa SMA, serta kisah romansa yang melibatkan Kazumi, Toshi, dan Kazuhiro. Lucu juga melihat gelagapannya Toshi di depan Kazumi, serta rasa suka dalam hati yang kadang keluar dari mulut malah berupa ejekan.

Untuk sisi sepak bolanya sendiri, alih-alih hadirnya tokoh-tokoh dewa dengan kemampuan epik, Shoot! justru minim akan hal tersebut. Memang, patut diakui Kubo digambarkan sebagai karakter seperti itu. Dalam laga semifinal kejuaraan  musim panas lawan Kakekita, ia bahkan mampu melewati 11 pemain, sebelum akhirnya divonis meninggal dunia selepas laga.

Meninggalnya Kubo ini seolah jadi penegasan tentang konsep "tak ada manusia yang sempurna" di dalam manga dan anime ini. Kubo memang dewa, tetapi ia punya leukeumia yang pada akhirnya merenggut nyawanya. 

Toshi, sebagai karakter utama jika digambarkan tidak sempurna amat. Terlepas dari 'Kiri Ajaib' serta kemampuan menyatukan tim yang ia punya, ia juga punya mental yang rapuh. Hal-hal macam inilah yang membuat manga dan anime Shoot! terasa lebih realistis, dibandingkan Tsubasa tentunya.

Shoot! ini sejatinya mirip-mirip dengan Whistle! dalam hal penggambaran karakter. Di Whistle! Sho Kazamatsuri sebagai tokoh utama tidak digambarkan laiknya dewa. Ia digambarkan semakin berkembang seiring pengalaman dan pertemuannya dengan karakter-karakter lain di dalam anime. Ia dibangun sedemikian rupa.


Begitu juga Shoot!. Toshi, Kazuhiro, dan Kenji berkembang seiring berjalannya cerita. Kamiya yang digambarkan sebagai sosok yang galak, selepas kepergian Kubo, perlahan mampu menurunkan egonya dan memimpin tim Kakegawa lewat kemampuan game making-nya yang menawan.

Hal yang sama juga terjadi dengan Shinichi Nitta, Yutaka Sasaki, dan karakter-karakter lain. Nitta yang awalnya penakut, jadi sosok yang kelak mampu mengembangkan perangkap offside. Sasaki yang awalnya cuma asal bawa bola, jadi mampu menyeimbangkan sayap Kakegawa yang lazimnya dominan dipegang Kazuhiro di sisi kanan.

Selain itu, hal yang menarik dari Shoot! ini adalah soal logika dalam sepak bola. Penjelasan soal taktik di dalam manga dan anime ini jadi sesuatu yang menarik. Memang, penjelasan taktiknya tidak sedalam anime dan manga Fantasista. Namun, setidaknya taktik inilah yang sejatinya menentukan menang atau kalah sebuah tim di dalam anime ini.

Contoh paling kentara adalah saat Kakegawa menghentikan taktik Flash Pass milik Fujita East. Dari situ, ayah Kazuhiro selaku penemu taktik ini, Hiramatsu Osamu, menyebut bahwa pada dasarnya "tidak ada taktik yang sempurna", atau merunut pada bahasa yang ia sampaikan: In any play, there's a weakness.

Akhirnya, Kazuhiro selaku anaknya sendiri, sukses menghentikan Flash Pass ini. Pertarungan taktik yang kerap terjadi ini pula yang menjadikan serial anime dan manga Shoot! jadi menarik. 

Anime Shoot! ini sendiri memiliki total 58 episode. Namun, cerita dari anime itu terputus manakala Kakegawa berhasil menembus babak final kejuaraan musim dingin. Pertandingan melawan SMA Teiko tidak diceritakan di sini.


Untuk menikmati keseluruhan cerita dari Shoot!, ada baiknya kalian membaca manga-nya juga, mulai dari Shoot! In Memory (bercerita tentang pertemuan Toshi, Kazuhiro, dan Kenji di SMP Kakenishi, yang dimotori oleh guru mereka, Yumiko Ohara), lalu baru lanjut ke Shoot! (cerita Toshi, Kazuhiro, dan Kenji di awal-awal masuk Kakegawa hingga Kakegawa masuk kejurnas musim dingin).

Setelah itu lanjut baca Shoot! Hot Challenge (perjuangan Kakegawa di turnamen musim panas, momen saat Kubo meninggal dunia), baru ditutup dengan Shoot! The Legend of New Age (kehadiran SMA Kurihama yang juga memiliki bocah dengan 'Kiri Ajaib', asuhan pelatih Toshi, Kazuhiro, dan Kenji ketika SMP, Yumiko Ohara).

Intinya, selain menyuguhkan cerita menarik berbalut keluguan, kedegilan, dan romansa khas anak SMA, Shoot! juga akan membuatmu setidaknya memahami taktik dasar sepak bola. Anime ini seolah-olah membuat sepak bola, pada dasarnya, adalah logika yang sejatinya bisa dipahami. Tentunya, berbalut romansa-romansa khas anak SMA.

 

   

06 October 2020

Pertandingan Sepak Bola Adalah Sebuah Karya Sastra

 


Alhamdulillah, setelah 1.100 hari lamanya, teman saya, Bunyanum Marsus Zakky alias Zakky BM, akhirnya menulis lagi untuk blog ini. Sebuah rentang waktu yang lama untuk hiatus. Padahal, dulu beliau adalah salah satu sosok produktif yang rutin mengisi blog ini, di kala saya didera kesibukan bekerja di ibu kota dalam rentang waktu 2017 hingga kini.

Yah, sedikit terpacu dengan semangat Zakky, saya pun mencoba untuk mengisi blog hamblah ini lagi, setelah sebelumnya sempat rutin mengisi sekira Juli – Agustus 2020 kemarin. Mencoba sedikit melipir dari per-anime-an, saya ingin mengingat-ingat lagi apa yang pernah saya pelajari ketika kuliah dulu.

Jadi, selama masa kuliah saya di Indonesia University of Education (sebut saja UPI-lah, meni alabatan), saya mengambil program studi Bahasa dan Sastra Inggris. Prodi ini lebih dari sekadar menerjemahkan teks dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia atau sebaliknya. Lebih jauh, cakrawala saya mengenai Bahasa terbuka lebar di sini.

Selain belajar kebahasaan (linguistik), saya juga belajar banyak mengenai kesusastraan. Saya banyak membaca teori-teori macam feminisme, post-kolonialisme, strukturalisme, dekonstruksi, bahkan juga belajar mengenai semiotika bahasa. Saya juga belajar tentang studi budaya di sini (cultural studies tah kerennya, mah). Tak heran, keluar kelas, kadang kepala terasa pening karena banyaknya diskusi.

Namun, saya menikmati itu semua. Beberapa pelajaran malah masih ada yang menempel di dalam otak. Salah satunya adalah tentang teks. Hal itu akan jadi pokok pembahasan dalam tulisan kali ini. Tentang bagaimana sebuah pertandingan sepak bola, sejatinya, adalah sebuah teks.

***

Dalam bukunya yang berjudul An Introduction to Literary Studies, Mario Klarer menulis bahwa teks adalah sesuatu yang universal. Ia tidak hanya menjelma sesuatu yang tertulis saja di atas kertas, melainkan semua hal yang tampak di dunia ini. Malah, Klarer juga menyebut jika zaman dahulu, lukisan-lukisan di gua dan cerita-cerita dari mulut ke mulut juga adalah teks.

Lebih jauh, Klarer mengungkapkan bahwa elemen-elemen visual, grafis, dan juga semua hal yang menyiratkan sesuatu yang bias ditafsirkan dapat masuk dalam kategori teks. Ia memisahkan teks dalam tiga tipe: genre, text type, dan discourse. Jika genre terikat dalam teks-teks yang sifatnya tertulis, text type dan discourse mencakup pengertian teks yang lebih luas.

Menilik pengertian Klarer di atas, dapat disimpulkan jika teks adalah sesuatu yang bisa ditafsirkan dan mengandung pesan di dalamnya, dalam bentuk apa pun itu. Alhasil, tanda-tanda yang kerap kalian lihat dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam bentuk tulisan ataupun bentuk tanda, seperti spanduk, grafis, bahkan emoticon, itu adalah teks.

Nah, berdasarkan pengertian di atas pula, saya berpendapat bahwa pertandingan sepak bola juga adalah sebuah teks. Loh, mengapa demikian?

Pertandingan sepak bola adalah sesuatu yang menarik. Ia tidak sekadar menang atau kalah. Sebuah football match juga nyatanya dapat dianalisis. Kadang, hasil analisis itu bisa beragam, tergantung dari sudut pandang mana yang kita ambil. Istilahnya, pisau yang kita gunakan sebagai analisis sekaligus titik peristiwa yang kita telisik akan memengaruhi hasil analisis yang kita lakukan.

Hal ini mirip dengan proses analisis sebuah karya sastra. Satu karya sastra bisa menghasilkan analisis yang beragam. Satu karya sastra akan menghasilkan banyak tafsir, tergantung pisau (dalam hal ini pendekatan teori sastra) serta beberapa bacaan atau pengalaman yang pernah kita alami sebelumnya. Intertekstualitas.

Nah, dari dua penjelasan di atas, bisakah kalian melihat sebuah kemiripan? Yap, betul.

Hasil analisis jadi beragam tergantung oleh beberapa factor. Dalam pertandingan sepak bola, hasil analisis bergantung kepada titik apa yang kita jadikan analisis, pendekatan yang kita gunakan, serta subjektivitas kita sendiri. Oleh karena itu, jangan heran jika Manchester United kalah dalam sebuah pertandingan, akan ada beragam tafsir yang hadir.


Bisa jadi, ada orang yang menilai kekalahan United didasari oleh bek sayap yang telat turun membantu serangan. Ada juga yang menimpali jika United kalah akibat dua bek tengah yang minim koordinasi, sehingga mampu dieksploitasi lawan. Atau, ada juga yang akan bilang United kalah karena para penyerangnya gagal memaksimalkan peluang.

Itulah kekhasan dari sebuah analisis pertandingan sepak bola. Keberagaman itu yang menjadi khazanah dari sepak bola, menjadikannya olahraga yang menarik serta digeluti oleh hampir seluruh masyarakat di dunia. Apa yang ada di baliknya menjadi sesuatu yang menarik untuk diangkat ke permukaan.

Hal serupa pun kerap terjadi dalam analisis karya sastra. Satu novel atau cerpen dapat menghasilkan analisis yang berbau feminis, post-kolonialis, atau bahkan terdekonstruksi sedemikian rupa. Diskusi-diskusi mengenai perbedaan hasil analisis inilah yang menjadi bagian dari khazanah kesusastraan itu sendiri.

Jadi, pada dasarnya pertandingan sepak bola adalah karya sastra yang siap untuk dianalisis. Siapa penulisnya? Tentu saja pelatih dan pemain selaku lakon utama, serta orang-orang di belakang klub dan federasi sebagai lakon pembantu. Mereka-lah yang menyajikan karya yang siap dianalisis dan ditelisik oleh khalayak masyarakat.

***

Yang namanya sastra, menurut dosen saya dulu, adalah tentang mengetahui sesuatu yang ada di balik dinding. Teman saya memiliki pendapat yang lebih unik lagi. Ia menyebut bahwa sastra adalah kehidupan itu sendiri. Pada dasarnya, ia mengajarkan kita untuk menerima perbedaan, belajar untuk lebih menghargai sesama, serta tidak menjadi sosok yang judgmental. Manusia pada dasarnya adalah teks yang sudah mengandung susunan sintagmatik dan paradigmatik mereka masing-masing.

Begitu juga pertandingan sepak bola. Ia adalah sebuah teks yang siap untuk dikupas oleh para penikmatnya. Ia terdiri dari susunan sintagmatik dan paradigmatik mereka masing-masing. Ia juga memiliki sesuatu di balik dinding yang tentunya menarik jika diangkat ke permukaan.

Oleh karena itu, dalam ranah teks sepak bola, pelatih dan pemain jadi penulis. Mengapa demikian? Karena di tangan mereka-lah, kalah, menang, dan seri bisa ditentukan. Lalu, laiknya teks karya sastra yang kerap mengandung dua sisi atau dua suara, pertandingan sepak bola juga akan menghadirkan dua sosok: si pemenang dan yang kalah.

 

29 September 2020

Mencoba Untuk Comeback: Bayar Utang Ke Sonay Dengan Nostalgia OST Shoot

 


Ah sudah lama sekali. Ini seriusan euy, geus lila pisan sejak 23 September 2017 silam hingga tulisan ini dibuat pada 28 September 2020, saya, @bmzakky tidak login ke blog ini. Sampai-sampai, akun Google pun enggan memberi verifikasi cepat buat saya untuk login ke sini.

Ada jarak 1100 hari (iya, seribu seratus hari) sejak tanggal 23 September 2017 tersebut dan sohib ane yang juga pengelola blog ini, yaitu mas-mas Kribo, Sandy Sonay, sudah menuliskan empat tulisan di tahun 2020. Saya merasa berhutang & bersalah euy sejujurnya. Saya berulang kali bilang ke Sonay kalau kemampuan tulis menulis saya tambah buruk saja hingga saat ini.

Jika boleh flashback sedikit, periode 2016-2017 saat itu saya masih cukup getol menulis long-form karena tuntutan pekerjaan. Bung Sonay pun demikian. Seiring waktu, saya sempat masih menulis 2018-2019 tapi memang hanya mentok di hard news dan mengeditnya. Keinginan menulis long-form sirna dan blog ini jadi sarang laba-laba dan beberapa bagian sudah dimakan rinyuh kayaknya.

Ah iya, diantara 2018-19 pun cs Sonay juga sibuk mempersiapkan pernikahannya. Haduh aing tinggaleun lagi aja nih. Tapi gapapa, ceuk pepatah mah hidup bukan perihal dulu-duluan atau balap-balapan. Tsah~

***

Di tengah pandemi COVID-19 yang semakin tak terkendali, saya akhir pekan lalu harus melakukan perjalanan singkat ke Cilegon untuk menyelesaikan beberapa urusan. Bersama kawan yang berangkat dari Serang, saya pergi ke tempat tujuan.

Singkat cerita, urusan tersebut selesai dan kami kembali di sore harinya ke tempat kami. Salah satu kawan saya meminta kabel AUX di mobil untuk dikoneksikan ke sound yang terpasang di mobil. Ternyata dia menyetel beberapa lagu cover nostalgia lawas dari ponsel pintarnya  termasuk beberapa dari OST (Osriginal Soundtrack) anime/kartun tahun 90an.

Lantunan lagu demi lagu bergulir sampai akhirnya ada satu lagu yang ia tanyakan kepada saya. Sebagai sesama generasi 90an, dia mengaku familiar dengan lagu tersebut namun ia lupa serial anime apa yang mempunyai soundtrack seperti ini…

Setiap saat bayang slalu hadir menerpa
walau pikiranku slalu
dipenuhi kebohongan
Namun semua membuatku sangat suka
Karna semua beban berat tak kurasakan

Rasa itu selalu ada dalam hatiku
Membuat gelora membara
di setiap langkahku
Genggam erat semangat di setiap nafasku
Oh kini semuanya tlah mulai berubah

Kebahagiaan bukan kebohongan
Kan kubuktikan semuanya padamu
Bahwa diriku tlah banyak berubah
Karna dirimu...

Kepercayaan kunci kemenangan
Kan kutuliskan di dalam ingatan
Kau berikan sinar kekuatan
Hingga ku tegar...

Setiap saat bayang slalu hadir menerpa
walau pikiranku slalu
dipenuhi kebohongan
Namun semua membuatku sangat suka
Karna semua beban berat tak kurasakan

Rasa itu selalu ada dalam hatiku
Membuat gelora membara
di setiap langkahku
Genggam erat semangat di setiap nafasku
Oh kini semuanya tlah mulai berubah

Kebahagiaan bukan kebohongan
Kan kubuktikan semuanya padamu
Bahwa diriku tlah banyak berubah
Karna dirimu...

Kepercayaan kunci kemenangan
Kan kutuliskan di dalam ingatan
Kau berikan sinar kekuatan
Hingga ku tegar...


Saya spontan ngahuleung sambil sing a long karena memang lirik dan nadanya tak asing bagi saya. Saya coba membongkar banyak selipan di memeori saya dan tetap saja kesulitan mengingatnya. Saya menyerah. Saya membiarkan mbah Google yang lebih sakti dari ingatan saya untuk mencari lirik lagu seperti ini. Kawan saya malah berseloroh bahwa ini adalah OST dari Kurochan.

Mbah Google bekerja dengan baik dan boooom…

Ternyata ini lagu dari Aoki Densetsu Shoot atau biasa yang disapa SHOOT di masanya. Salah satu serial kartun/anime bertema sepakbola yang diadaptasi dari komik/manga yang berjudul sama. Manga nya diterbitkan tahun 1990 karangan Tsukasa Ooshima dan baru didaptasi jadi serial anime pada tahun 1993 silam. Di Indonesia, jika saya tak salah ingat, serial kartun ini mengudara di TV lokal pada awal 2000an. Mohon koreksinya, ya.

Serial Shoot, bagi saya pribadi, memang samar-samar. Saya pernah menontonnya namun memang tak semelekat seperti serial Kapten Tsubasa yang melegenda. Saya bahkan jika ditanya menceritakan inti dari serial Shoot ini, saya harus jujur bahwa saya lupa dan harus menontonnya ulang. Mungkin kapan-kapan jika Sonay masih ingat, ia bisa bercerita lebih banyak lagi tentang serial ini.

Tapi tentu saja ingatan saya tentang jalan ceritanya itu bukan masalah besar. Karena memang saya sangat menikmati lagu tersebut. Sangat menyenangkan rasanya bisa mengembalikan memori yang terkubur setelah sekian lama. Mungkin hampir dua dekade lantunan nada dan lirik ini terpendam di dimensi lain kepala saya.

Saya menelusuri beberapa sumber dan menemukan bahwa judul aslinya adalah “Sunao de Itai” yang dinyanyikan oleh WENDY. Aransemen dan range vokal yang klasik ala 90an sangat kental di versi aslinya yang berbahasa Jepang. Tapi bagi kami generasi 90an, tentu yang kami dengar adalah versi gubahan yang sudah berbahasa Indonesia.

Lagu-lagu serial kartun/anime 90an yang sudah digubah ke Bahasa Indonesia memang selalu jadi memori nostalgia selamanya. Setelah menemukan lagu ini, saya juga mencoba menelusuri beberapa OST serial jadul lain yang sudah di bahasa Indonesia-kan. Sekali lagi, cukup membahagiakan bisa mengngat hal-hal seperti ini. Saya seperti menemukan harta karun di tengah silang sengkarut masalah hidup dan kondisi sekitar yang sedang dalam masa pandemi ini.

Akhirul kalam, untuk mencoba comeback menulis kali ini cukup segini aja dulu lah yak. Semoga bisa konsisten lagi menulis satu tulisan per bulannya  apapun tentang sepakbola.  Lumayan lah segini mah udah sampe 800an kata meski kebantu sama lirik lagunya, hahahahahah.

Adios permios sampai jumpa di tulisan berikutnya dari @bmzakky. Nuhun mang Sonay atas inspirasinya!

06 September 2020

Pemain Timnas Indonesia, Bercerminlah dari Captain Tsubasa


Beberapa waktu yang lalu, keriuhan menghampiri Timnas Indonesia. Efek dari keriuhan ini begitu terasa, baik itu di media sosial maupun media massa. Apa yang sebenarnya terjadi?

Jadi, para pemain Indonesia ramai-ramai mengunggah makanan yang sedang mereka santap di media sosial. Alih-alih mengundang komentar positif, justru mereka mendapatkan cibiran.  Hal ini tak lepas dari jenis santapan yang mereka unggah. Mereka mempertontonkan makanan semacam nasi putih, rendang, opor ayam, telur balado, mie, serta jenis panganan lainnya.
 
Sejatinya, makanan yang mereka santap merupakan sesuatu yang lazim dimakan oleh orang Indonesia pada umumnya. Namun, dimotori oleh sebuah akun di Twitter, warganet ramai-ramai mengkritik hal ini. Dari semua pendapat yang muncul, ada keseragaman yang tampak: pemain sepak bola, selaku atlet profesional, mestinya bisa menjaga pola makan. Pasalnya, hal tersebut akan berpengaruh terhadap performa di atas lapangan.

Warganet juga memberi contoh para pesepak bola yang mampu menjaga pola makan, seperti Ryuji Utomo dan beberapa pemain Eropa. Menurut mereka, apa yang dilakukan oleh Ryuji dan para pemain Eropa itu memang sudah selayaknya patut untuk dilakukan. Prahara perihal makanan ini juga meruncing tatkala Shin Tae-yong mendepak beberapa penggawa Timnas U-19 dalam pemusatan latihan jelang Piala Asia U-19 2020.

Terdepaknya para pemain itu--beberapa merupakan eks penggawa Timnas U-16 di Piala AFF U-16 2018--menunjukkan bahwa ketegasan Shin, termasuk soal attitude dan pola makan, tidak pandang bulu. Siapa yang tidak ikut aturan, ia harus pergi.

Apalagi, ada beberapa unggahan di Instagram maupun Twitter yang memperlihatkan para penggawa Timnas U-19 memakan nasi bungkus. Warganet pun memuji kebijakan Shin tersebut, demi kemajuan sepak bola Indonesia. 

Namun, apakah perlu kritik itu disampaikan? Apakah memang pemain mesti memakan makanan bergizi untuk menunjang performa mereka di lapangan?

***

Mengingat kisruh yang terjadi belakangan ini, saya jadi teringat anime Captain Tsubasa: Road To 2002. Di dalam anime itu, ada cerita tatkala Tsubasa Ozora dan Kojiro Hyuga yang sedang mempersiapkan diri menuju Eropa. Demi meningkatkan kualitas dari Timnas Jepang, keduanya mengambil langkah ini.

Tsubasa, setelah menimba pengalaman di Brasil bersama Sao Paulo, memutuskan untuk bermain di Eropa bersama Catalonia (Barcelona di dunia nyata). Sedangkan Hyuga, berkat koneksi dari Matsumoto yang juga membawanya ke Perguruan Toho, berhasil menjejak tanah Italia. Di sana, ia menjalani trial bersama Piemonte (Juventus di dunia nyata). Alih-alih menjalani karier dengan sukses, keduanya justru menghadapi tembok besar.

Permainan Eropa yang cenderung fisikal dan mengandalkan taktik, membuat mereka sedikit kesulitan menembus tim inti. Tsubasa harus memulai dari tim Catalonia B, sedangkan Hyuga harus memulai dari bangku cadangan. Malah, Hyuga sempat bersitegang dengan pelatih fisik tim, yang mengkritik kondisi otot Hyuga. Ia bilang ototnya cenderung tidak seimbang. Sedangkan Tsubasa, ia harus bersaing dengan Rivaul agar mendapatkan satu tempat di posisi gelandang tengah.

Kesadaran Hyuga dan Tsubasa akan tingginya tembok sepak bola Eropa makin muncul tatkala Timnas Jepang menghadapi Belanda. Bermaterikan pemain kelas atas, berpadu dengan total football yang mereka mainkan, Jepang kalah telak secara permainan. Dari situ, Hyuga dan Tsubasa paham bahwa untuk meningkatkan level permainan Timnas Jepang, mereka perlu juga meningkatkan beberapa aspek individu.



Alhasil, mereka memulai latihan secara pribadi. Hyuga melunak dan akhirnya mau dilatih oleh pelatih fisik Piemonte. Tujuannya, untuk meningkatkan kekuatan otot sebelah kiri, otot yang selama ini jadi kelemahannya karena Hyuga terlalu banyak mengandalkan otot sebelah kanan. Sementara itu, Tsubasa berlatih bersama dokter olahraga yang juga merupakan dosen temannya, Manabu, di Hawaii. Di sana, Tsubasa melatih otot-otot dalam tubuhnya sehingga kelak ia dapat bersaing di Eropa.

Setelah menjalani latihan itu, Tsubasa dan Hyuga pun pada akhirnya mampu bersaing di Eropa. Tsubasa mulai mendapatkan tempat inti di lini tengah Catalonia, sedangkan Hyuga menjadi andalan di lini depan Piemonte. Jadi, dengan tujuan agar bisa bermain di Eropa dan meningkatkan level sepak bola Jepang, Tsubasa dan Hyuga rela melakukan hal demikian. Nah, bagaimana dengan pemain Indonesia?

***

Pemain sepak bola, sejatinya, adalah rakyat biasa. Mereka sama seperti kita, yang sehari-harinya tentu doyan menyantap makanan seperti pecel lele, baso, maupun soto ayam. Makanan macam itu memang menggugah selera.

Namun, jika memang tujuan mereka adalah untuk meningkatkan level permainan serta agar Indonesia dapat bersaing di pentas Asia maupun dunia, alangkah baiknya jika mereka mampu mengesampingkan makanan-makanan di atas. Apalagi, dewasa ini beberapa negara di Asia sudah menerapkan sport science. Agar kekuatan otot tetap terjaga, asupan gizi yang baik juga adalah hal mutlak, selain tentunya latihan yang dilakukan secara berkala dan teratur.

Ada contoh nyata--selain Tsubasa dan Hyuga dari dunia anime--yang bisa ditiru pemain Indonesia: Chanathip Songkrasin. Ia selalu mendobrak batas dirinya. Meski sempat sedih karena ia pindah dari BEC Tero Sasana, tim kota kelahirannya, ia tak patah arang. Agar kemampuan sepak bolanya meningkat, ia rela pindah ke Muangthong United. Ia juga berani hijrah ke J-League, membela Consodale Sapporo. Alhasil, berkat keinginannya dalam menabrak batas diri, ia jadi salah satu talenta andalan sepak bola Thailand. 

Nah, sekarang, semua kembali kepada para pemain itu sendiri. Jika memang sudah puas dengan capaian selaku pemain Liga 1 dan tidak ingin bersaing di kancah dunia, silakan-silakan saja jika ingin terus menyantap baso, soto ayam, nasi putih, pecel lele, dan makanan lainnya. Toh, sejatinya itu wajar dan para pemain menggunakan uangnya sendiri, kan? 

Namun, tentunya mereka harus berpikir dua kali untuk rutin mengonsumsi panganan di atas jika memang target mereka adalah menembus level dunia.

19 August 2020

Bayar Hutang ke Zakky: Soal Defensive Forward Bernama Haruhiko Kubota

Haruhiko Kubota. Foto: myanimelist.net
 

Saya baru ingat, kalau saya punya satu hutang ke Zakky BM. Hutang untuk membahas perkara Haruhiko Kubota, salah satu karakter dalam manga dan anime Giant Killing.

FYI, hutang ini sebenarnya sudah diingatkan Zakky sejak jauh-jauh hari, terutama setelah ia menerbitkan tulisan berjudul Tsukamoto the Suffaco. Tulisan itu Zakky buat setelah kami berdiskusi di Twitter mengenai defensive forward pada 2017.

Kala itu, saya menyebut bahwa di anime dan manga Giant Killing, ada pemain yang juga bertipe Suffaco seperti itu. Ia merupakan bagian dari empat penyerang Osaka Gunners bersama Hauer, Katayama, dan Hatake.

Namanya adalah Kubota. Meski tidak se-nyentrik Takeshi Tatsumi selaku tokoh utama dan Daisuke Tsubaki yang kerap mengejutkan, Kubota adalah sosok yang menarik untuk ditelisik.

Berikut adalah ulasan singkat dari sosok Kubota ini. . .

***

Osaka Gunners jadi tim yang cukup mendominasi dalam semesta Giant Killing. Di bawah asuhan pelatih asal Belanda, Dulfer, mereka menempati papan atas J-League. Lini depan mereka jadi salah satu yang paling ditakuti.

Mereka memiliki dua pemain sayap cepat dalam diri Katayama dan Hatake. Di posisi penyerang tengah, ada Hauer yang andal dalam sundulan dan post play. Mereka semua juga andal dalam sirkulasi bola di area sepertiga akhir.

Namun, saat Osaka menghadapi East Tokyo United, Tatsumi menyadari bahwa tajamnya serangan Osaka bukan disebabkan oleh ketiga pemain itu. Ada satu sosok yang membuat serangan Osaka bak ombak tsunami yang tak henti menerjang.

Tatsumi pun menyebut nama Kubota di situ. Dalam pandangannya, Kubota-lah pemain yang paling berbahaya di lini depan Osaka. Pelatih Timnas Jepang, Jean Blanc, yang juga kebetulan menyaksikan laga itu, mengamini pandangan Tatsumi.

Lalu, apa yang bikin Kubota jadi sosok yang mengerikan? Dalam anime Giant Killing episode 21, Tatsumi menjelaskannya dengan rinci. Kira-kira penjelasannya seperti ini.

"Yang membuat serangan Osaka menakutkan adalah, mereka tidak kehilangan bola di area pertahanan lawan. Memang, semua penyerang mereka mampu menahan bola dengan baik. Mereka juga mampu mensirkulasikan bola serta berkomunikasi satu sama lain."

"Alhasil, itu bikin bek kita kerap membuang bola secara asal. Nah, masalahnya, bola muntah itu akhirnya didapatkan oleh siapa? Osaka bisa menndapatkan semua bola muntah itu. Alhasil, serangan mereka terus mengalir tanpa henti."

"Dan, pemain yang sukses mengambil banyak bola muntah itu adalah dia, Kubota."

Sebuah penjelasan taktikal dari Tatsumi. Ia langsung menyadari tentang berbahayanya sosok Kubota dibandingkan para penyerang yang lain. Namun, penjelasannya mengenai talenta dari Kubota ini juga cukup menarik perhatian. Apakah itu?

"Alasan kenapa ia (Kubota) punya visi sebagus itu, mungkin berasal dari pengalamannya dulu saat bermain sebagai gelandang bertahan. Namun, intuisinya, bisa jadi merupakan sebuah bakat."

"Tidak buruk, Dulfer, kau memindahkan posisi Kubota sehingga talentanya mekar. Dan Sugie (bek ETU yang ditugaskan Tatsumi mengawal Kubota), jika kau tidak menyadari bakat dari Kubota ini, kau tak akan bisa mengalahkannya."

Penjelasan dari Tatsumi ini menarik, sekaligus mencerminkan visi dari sosok Dulfer, pelatih Osaka, yang dikisahkan berasal dari Belanda. Pelatih dari Belanda, lazimnya, menggilai sepak bola yang berbasiskan penguasaan bola, plus permutasi posisi, umpan pendek, dan serangan tanpa henti.

Timnas Belanda pada Piala Dunia 1974 mencerminkan pola permainan itu. Dipimpin oleh Johan Cruyff, mereka sukses menembus partai final PD 1974 lewat permainan atraktif bernama Total Football.

Permutasi posisi, umpan-umpan pendek nan cepat, plus pressing yang ketat, menjadi senjata apik mereka. Ditopang pula oleh kemampuan Cruyff selaku pembeda lewat skill-nya yang memang di atas rata-rata.

Pola permainan Belanda ini pun jadi inspirasi bagi pelatih-pelatih zaman sekarang, macam Pep Guardiola, Juergen Klopp, maupun Marcelo Bielsa. Tekanan yang ketat, bahkan saat lawan menguasai bola di area sendiri, jadi hal yang mutlak dilakukan untuk memutus sekaligus mengacaukan permainan lawan.

Sekilas, kemampuan dari Kubota ini mirip dengan kemampuan Tsukushi Tsukamoto, karakter dari manga dan anime Days. Tsukamoto juga mendapatkan kesadaran taktikal sebagai defensive forward tatkala ia ditempatkan sebagai bek dalam sebuah pemusatan latihan tim.

Nah, Kubota pun sama. Berkat pengalamannya sebagai gelandang bertahan, ia mampu menjadi defensive forward yang apik. Bedanya, ia tidak menekan laiknya Tsukamoto. Ia lebih memilih melakukan intersep, berdasarkan naluri dan pengalaman yang ia punya.

Selain menjadi distributor bola di lini serang (kemampuan passing Kubota pun di atas rata-rata), Kubota pun dapat menjadi pencetak gol. Ia memeragakannya dengan baik saat mengecoh Sugie, bek ETU, kemudian melakukan placing yang gagal dihalau Midorikawa, kiper ETU.

Tetapi, pada dasarnya tujuan dari permainan Kubota dan Tsukamoto ini sama: membuat serangan tim jadi tak terhenti. Alhasil, jika Kubota jadi penyerang keempat Osaka, Tsukamoto pun digadang-gadang menjadi Fourth Arrow, setelah Hisahito Mizuki, Jin Kazama, dan Kiichi Oshiba.

Seiseki dan Osaka pun jadi tim dengan lini serang yang menakutkan dalam dimensi manga dan anime mereka masing-masing.

***

Ya, kehadiran Kubota sebagai seorang defensive forward menjadikan Giant Killing jadi suguhan menarik. Apalagi, di manga, kelak diceritakan bahwa Kubota jadi karib pemain kunci ETU, Tsubaki, baik itu di Timnas Jepang U-22 maupun senior, meneruskan tradisi duet Hanamori-Mochida, senior mereka.

Permainan menariknya merupakan buah dari kecerdasan dan kelihaian Dulfer membaca potensi Kubota. Hal itu juga yang menunjukkan bahwa Dulfer merupakan pelatih kelas atas di manga dan anime Giant Killing.

Namun, meski begitu, Tatsumi tetap dapat menemukan anti-tesis dari permainan Dulfer ini. Apa pasal? Di akhir laga, ETU menang dengan skor 3-2 dan sukses menghentikan rekor kemenangan Osaka,

Hal ini sekilas mirip seperti Guardiola yang mengalami kebuntuan saat menghadapi Inter Milan-nya Jose Mourinho, 2010 silam. Yah, yang namanya taktik memang fana sih. Kemenangan yang abadi mah. Eta ge ceuk mang Zen RS.

 

05 March 2020

Tentang Lagu Tactics: Sepak Bola dan Perempuan Sama Saja!


Halo semua, kembali lagi dengan saya, Sandy Firdaus alias Sonay alias @sandi1750 (di Twitter) alias sandy_kribo (di Instagram). Fiuhh, akhirnya setelah sekian lama, saya kembali mengudara di Bendera Offside ini!

Pertama-tama, aing hampura pisan kepada bmzakky alias Bunyanum Marsus Zakky, karena baru sekarang saya berkesempatan mengisi lagi konten di Bendera Offside ini. Hampura Zek, euy, biasa kalo udah beristri ada aja kesibukan-kesibukan tambahan. Wkwkwk.

Semoga saja, Zakky segera menemukan tambatan hati. Tidak melulu nyo'o (main) Gundam dan menghabiskan gaji untuk membeli mainan dari Jepang tersebut. Sorry Zek, heureuy biasa we urang Sunda mah (biasa orang Sunda suka bercanda). Hahahaha.

Nah, terkhusus buat Zakky, ini saya ada sedikit saran soal bagaimana caranya menaklukkan perempuan. Tentu saja, ada kaitannya sama sepak bola karena blog ini isinya adalah tentang bal-balan yang ngaco. Sok Zek simak, sugan we beubeunangan (menghasilkan) nyak!

***

Pada suatu malam di Jakarta, saya sedang ngulik aplikasi YouTube di handphone. Selain menonton vlog-vlog orang yang kadang kontennya bagus atau tidak, entah kenapa saat itu saya ingin ngulik lagu Jejepangan. Fokusnya kepada soundtrack anime zaman baheula.

Setelah close open sana-sini, lalu swipe-swipe secara acak, akhirnya saya menemukan lagu unik. Lagu ini berjudul Tactics, dinyanyikan oleh The Yellow Monkey, band rock asal Jepang. Lagu ini jadi soundtrack ending pertama anime Samurai X.


23 September 2017

Sebuah Ulasan dari Keppeki Danshi! Aoyama-kun: Kisah si Jenius Absurd Pecinta Kebersihan


Perlu muqoddimah untuk artikel ulasan ini dan mempertanyakan rekan kontributor saya di sini yaitu si Sandy Sonay? Ah gak usah kali ya, mungkin hari sabtu akhir pekan ini, beliau sedang ada kesibukan lain bersama nganunya. Langsung saja kalau begitu.

Seperti musim panas (summer) tahun 2016 lalu, kini musim panas 2017 ini pun para penikmat tayangan anime kedatangan satu lagi genre sport khusus bertemakan sepakbola. Jika 2016 lalu diisi oleh serial DAYS selama dua cour (sekitar24 episode), maka yang ini hanya diisi satu cour saja (12 episode).

Sebagai informasi umum, Keppeki Danshi! Aoyama-kun digarap oleh Studio Hibari. Studio yang sebetulnya cukup lawas dan malahan sempat garap satu serial Gundam yaitu Char’s Counterattack pada 1988 lalu. Namun pada summer 2017 ini, tampaknya Studio Hibari cukup sibuk karena mengerjakan proyek Keppeki Danshi! Aoyama-kun serta Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e yang sama-sama cukup naik daun di summer 2017 kali ini.

Keppeki Danshi! Aoyama-kun sendiri secara harfiah mempunyai arti seperti ini; “Bocah penggila kebersihan! si Aoyama.” Kira-kira seperti itu. Meski judulnya tentang penggila kebersihan, namun percayalah pada awal trailer sebelum acara ini mengudara, si Aoyama memang sedang bersepakbola bahkan sedang membela tim nasional junior Jepang.


31 August 2017

Mencoba Memahami Intersep dari Sudut Pandang Lelaki dan Pemain Sayap


Ehm. Sebetulnya saya ada kurang lebih dua tema yang akan diangkat tentang review anime bal-balan yang sedang dan baru saja ditonton. Namun karena ada satu dari sekian hal yang mengusik saya, maka tema tersebut sengaja dikesampingakan dahulu saja lah.

Oh ya, kabarnya salah satu penulis blog Bendera-Offside ini, siapa lagi kalau bukan Sandy Sonay Kribo tersebut lagi berbahagia katanya. Namun sianying teh kalahkah acan wae nraktir sekaligus sebats-duabatsnya. Diantos, bosque!

Yup mari saja dimulai tjurhats, eh pembahasannya...

Pada suatu masa, saya pernah membaca dan mencoba memahami bagaimana luasnya pandangan seorang gelandang tengah dalam lapangan bal-balan. Katanya, seorang gelandang dan pemain yang berposisi di tengah lapangan mempunyai kesempatan 360 derajat putaran tubuh dan kepalanyanya untuk mencari celah.

Jika pemain tengah mempunyai 360 derajat alias satu putaran penuh, maka pemain yang berposisi di dekat garis tepi lapangan seperti penyerang sayap ataupun bek sayap hanya mempunyai jarak pandang setengah putaran saja alias 180 derajat.


31 May 2017

Penggunaan Teknologi di Sepakbola Indonesia: Akankah Terwujud?



Assalamualaikum, pemirsah... lama tak bersua. *bersih-bersih dashboard* 

Bagaimana puasanya tahun ini? Mudah-mudahan kalian juga lebih banyak tidurnya ketimbang puasanya ya, biar sama kayak saya, hahahahaha~

Terus bagaimana pencarian kembang kompleknya? Eh maksud saya gimana tarawehnya? Taraweh, taraweh, taraaaa weh? Hahaha apapun itu semoga kita selalu diberkati kesehatan. *benerin sarung*

Hampir dua bulan kieu absen menyumbang tulisan random di blog ieu euy, begitupun si Sandy Sonay yang teuing kamana. Aing sedikit paur bisi si Sandy Sonay ini palid di walungan atau teuleum di sumur gara-gara haus dan mau godin pake cai walungan/sumur. Belagu pisan si eta so syibuk lah padahalmah setulisan bisa keleus~~~ HIH!

Yasudahlah, ngedumel wae makruh euy puasa aing. Sekarang mendingan saya mau repost tulisan yang bisa dibilang cukup serius dari saya dan pernah tayang di laman FourFourTwo Indonesia pada Maret 2017 lalu tentang penggunaan teknologi di sepakbola Indonesia.

Yea, here we go!

***

Mari kita bayangkan sejenak. Saat salah satu pertandingan Liga 1 Indonesia sedang asik-asiknya bergulir antara Persib Bandung melawan Perseru Serui misalnya, kemudian kehebohan terjadi.

Tendangan LD… ah, maksud saya tendangan jarak jauh dari Michael Essien yang mengarah langsung ke gawang lawan tersebut berada tepat 15 centimeter dari garis gawang bagian dalam kemudian memantu kembali ke bagian luar gawang. Singkat kata, tendangan tersebut pun dianggap bukan gol.


29 March 2017

Calistung dalam Sepakbola Masa Kini


Sudah mendekati penghujung Maret 2017, tampaknya. Berarti sudah hampir dua bulan lebih, saya dan si kribo Sandi Sonay tak mengisi ulang blog ini. Ketimbang nanti mengundang laba-laba sekaligus debu yang bertambah banyak, ada baiknya saya mengisi saja duluan lah. Mumpung ada niat menulis.

Si Sandi Sonay ini padahal sempat bertemu beberapa kali dan diingatkan, sih oleh saya. Namun bliyo mungkin sibuk jadi ‘kang bersih-bersih’ di kantor barunya. Ah maksud saya, bangunan baru kantornya yang baru saja pindahan, kabarnya. Yasudah, mari biarkan si Sandi Sonay sibuk nyapu-ngepel, mari kita mulai tulisan ngayayay kali ini.

***

Jika anda sempat masuk TK atau Taman Kanak-kanak (bagi mereka yang beruntung), tentu saat sekolahnya mengenal pembelajaran sangat dasar yaitu calistung alias membaca, menulis dan

28 December 2016

Boxing Day, Saat yang Tepat untuk Meninggalkan dan Bersedih



Helow guys, Alhamdulillah akhirnya saya, Sandy Firdaus alias Turbo alias Sonay alias @sandi1750 bisa kembali memiliki waktu untuk mengisi blog yang sekarang sudah penuh oleh tulisan yang sifatnya hamblah-hamblah dan penuh dengan curhatan hati yang tidak penting ini. Namun meski tidak penting, saya beserta Zakky BM sebagai kontributor kedua di blog ini Inshaa Allah akan tetap berusaha untuk mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan SARAT makna agar hidup pembaca semakin berwarna.

Okee, tanpa banyak lama langsung saja simak dengan seksama, boleh ditemani dengan kopi hitam plus rokok Gudang Garam Signature satu bungkus (bagi lah, euy) agar suasana lebih syahdu dan penuh ke-enjoyan-an yang HQQ.

Cekidot!

***

Sebelum menghayati tulisan yang akan saya tulis dengan sepenuh hati dan segenap jiwa ini, silakan hayati (bukan Hayati lelah, abang atau Hayati dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ya) lagu yang akan saya bagikan lewat tautan dari Youtube ini (kalem bukan videonya YoungLex ataupun Rich Chigga Richeese Nabati koq!).


Gimana? Sedih gak lagunya? Kalau saya dulu pertama kali denger langsung nangis loh, seriusan. Jis, ga nyangka Blink 182, band pop-punk itu bisa bikin lagu kaya gini, meski sebenarnya lagu mereka

21 December 2016

"Om Telolet Om', San Marino, Beserta Semua Kebahagiaan Sederhana Itu



Halo semua! Bertemu lagi dengan saya Sandy Firdaus a.k.a Sonay sebagai salah satu penulis, kontributor, atau entah apa namanya dari blog yang tak jelas juntrungannya ini. Eh, jelas deng, toh blog ini pada akhirnya membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan sepakbola dengan segala tetek-bengek, silang-sengkarut, dan kejadian yang ada di dalamnya. Mohon maaf jika saya lama tidak mengisi konten dari blog ini, Maklum bro kesibukan-kesibukan di luar sana membuat saya tidak berkesempatan untuk mengisi blog ini kembali.

Ehm, oke, cukup basa-basinya. Sekarang saya ingin sedikit kembali ngacablak dalam blog ini. Cuitan saya sekarang akan sedikit berhubungan dengan fenomena yang sempat menjadi tren jelang akhir tahun 2016. Apa itu?

Cekidot!

***

Pada Desember 2016. jagat dunia maya Indonesia diramaikan oleh kemunculan video yang menayangkan sekumpulan anak-anak di pinggir jalan, memegang banner atau spanduk yang terbuat

28 November 2016

Tsukamoto the Suffaco


Sebelum bulan November berganti menuju Desember, ada baiknya saya memulai mengisi laman blog Bendera-Offside ini setelah bulan Oktober lalu nyaris tak ada satu pun postingan. Mungkin kami berdua (saya Zakky, bersama si Sandi Sonay) ini sedang sibuk-sibuknya. Entah sibuk apa, yang jelas blog ini tercampakkan dan terlihat seperti seorang pria naïf yang mendekati gebetan namun akhirnya dia berpaling ke lain hati, uh... #naonlah

Pada awal-awal tayangnya blog ini, saya sempat menuliskan review dari anime sepakbola yang baru tayang pada 2016 ini dengan judul DAYS. Jika belum baca review ngacapruknya, klean semua bisa simak di sini. Saat itu baru berjalan 10 episode dan kini sudah mencapai 21 episode. Singkatnya, tiga pekan lagi kemungkinan anime DAYS season pertama ini akan segera usai tepat di episode 24.

Akhir pekan lalu, seperti biasa saya selalu stand-by untuk mengunduh per-episode dari serial DAYS ini. Tak sengaja mencuitkan opini perihal peran Tsukamoto Tsukushi pada episode 21 lalu di Twitter,

27 September 2016

Move On itu Mesti Kaffah dan Jangan Setengah-Setengah, seperti Pogba!



Halo pembaca sekalian! Berjumpa lagi dengan saya Mr. Firdaus alias kontributor tercinta sekaligus ngehe dari blog yang tak jelas juntrungannya ini. Setelah sempat vakum beberapa waktu menulis di blog yang saya ciptakan bersama Zakky BM ini (sebenarnya Zakky sih yang bikin, saya nyumbang kopi satu gelas aja), saya seperti ingin kembali mencurahkan ide keblinger dan aneh saya perihal tentang sepakbola. Kali ini, mari kita berbicara tentang move on, sesuatu yang gampang diungkapkan namun susah untuk dilakukan. Uhuk.

Okee, mari kita mulaii. Enk Ink Enk!!!!

Masalah cinta adalah masalah yang universal sekaligus evergreen, everlasting, dan sifatnya timeless, enak buat dibicarakan dari waktu ke waktu sembari menyeruput kopi hangat diiringi oleh satu batang

18 September 2016

Sepakbola, Ku Tetap Menunggu, dari Teh Ocha



Kali ini, sebelum saya mengungkapkan apa yang sekiranya perlu untuk diungkapkan, ada baiknya saya membagikan sebuah video kepada anda sekalian wahai para pria kesepian. Sedikit video dari Teh Ocha alias Rossa alias perempuan cantik dari Sumedang.

Ah, banyak cingcong dech. Oke, tanpa banyak buang waktu, cekidot!



Tah udah disetel belom videonya? Itu adalah salah satu video dari single Rossa berjudul Ku Menunggu. Gak tahu kapan saya rilisnya lagu tersebut, yang saya tahu, lagunya enak, punya lirik yang catchy dan gampang diingat, lalu tentu saja, imut dan cantiknya Teh Ocha itu loooh. Mana tahaaann!! (*Maaf pembaca sekalian, jomblo empat tahun dan menuju lima tahun).


14 September 2016

Sepotong Kisah Dari Pajajaran Saat Nobar Liverpool



Atas permintaan dari rekan saya, orang yang menulis tentang ulasan anime Days, sebuah anime bertemakan sepakbola, akhirnya, saya pun menyumbangkan buah tulisan saya di sini perihal kicauan-kicauan mengenai dunia sepakbola beserta dengan isinya. Ini kicauan perdana saya, dan mari kita buka kicauan ini dengan bacaan basmalah, Bismillahirrohmanirrohim. .

Oke, beberapa waktu lalu, rekan saya meminta saya untuk menyumbang tulisan di blog ini. Ia mengusulkan agar saya membagikan pengalaman saya ketika ikut nonton bareng, atau lazim disebut nonbar (apa nobar, ya? ah entahlah) Liverpool vs Arsenal. Kejadian ini sudah berlangsung sekira dua tahun yang lalu. Kala itu, 2014, Liverpool memang sedang tampil apik-apiknya dengan si bomber tonggos mereka, Luis Suarez.


04 September 2016

Sebuah Ulasan: Anime Summer 2016 Bertema Sepakbola yang Berjudul “DAYS”

Kesebelasan sepak bola SMA Seiseki, protagonis dari anime DAYS

Baiklah, mari dimulai saja sesi ngacapruk kali ini...


01 September 2016

Muqoddimah Tentang Bendera Offside

Gambar percobaan bendera-offside dari mbak-mbak semlohay.
Dari ide gila yang tercetus di malam hari di wilayah Gegerkalong, tiba-tiba saja saat saya membuka mata di pagi harinya, blog abal-abal, hamblah-hamblah, bernama Bendera Offside ini tercipta. Lalu, rekan saya yang katanya berinisial Zakky BM ini pun menyarankan kepada saya agar membuat sebuah Muqoddimah tentang Bendera Offside ini. Waduh!

Woy Zak gua sibuk nih. Seenaknya aja lu nyuruh gua bikin Muqoddimah. Asem. Tapi, ya, tidak apa-apa. Lu terima jadi aja ya, gan, muqoddimah gua ini. Kalo lu berani utak-atik awas lu. Hehehehe...

Hah, muqoddimah. Muqoddimah kan artinya pembukaan/kata pengantar, berarti gua harus bikin kata pengantar buat blog ini dong. Hmm, seperti membuat buku saja. Tapi, yah, tidak apa-apa. Semoga saja nanti, bukan hanya kata pengantar blog ini saja yang kutulis, tapi kata pengantar buku-buku kenamaan.

Hmm, bendera offside yah. Kalau dipikir-pikir, nama yang muncul begitu saja saat dua orang sengklek berbincang-bincang di sebuah kafe, membicarakan tentang kehidupan yang tanpa ujung ini tak memiliki filosofi sama sekali. Tapi ah, tunggu dulu. Setelah dipikir-pikir, ternyata ada sebuah makna dalam di balik bendera offside ini.

Alkisah dalam sebuah pertandingan sepakbola, ada satu tim yang sedang menyerang. Tim tersebut menyerang dengan begitu rapi, dengan umpan-umpan pendek disertai pergerakan pemain yang mengalir begitu cair. Permainan dambaan semua orang, termasuk pelatih berlisensi KNVB itu. Tak terasa, umpan-umpan pendek sudah membawa tim tersebut mendekati tim lawan.

Namun, seketika tim yang menyerang rapi tersebut akan melanjutkan serangan, hakim garis yang berada di pinggir lapangan mengibarkan bendera pertanda salah satu pemain mereka, saat diberikan umpan, berada dalam posisi offside. Kesal? Tentu. Sebel? Sudah pasti. Tapi mereka tak bisa mengelak dari peraturan yang sudah dibuat FIFA sejak zaman dahulu kala ini. Serangan rapi mereka, permainan cantik yang mereka peragakan terhenti karena sebuah kibaran bendera bernama bendera offside.

Rasa sebal pemain yang terjebak offside ini mungkin sama halnya dengan rasa sebal orang kebanyakan saat berbicara tentang hal yang berkenaan dengan sepakbola. Sepakbola sekarang ini bukan hanya terpatok pada apa yang terjadi selama 90 menit di atas lapangan. Orang-orang perlahan mulai mengalihkan pandangan mereka kepada hal-hal di luar sepakbola, utamanya setelah muncul esais-esais bal-balan kenamaan semisal Zen RS ataupun Romo Sindhunata, yang berani mengait, menyilang-sengkarutkan sepakbola dengan hal-hal lain yang, ternyata memang nyambung.

Apalagi, setelah kemunculan media-media daring sepakbola anti-mainstream semisal Pandit Football ataupun Football Fandom, ataupun blog-blog ajib yang menceritakan sepakbola dari sudut pandang yang lain seperti Belakang Gawang, sepakbola tidak lagi hanya dilihat sebagai sebuah permainan yang melibatkan 22 orang di dalam lapangan. Sepakbola adalah bagian dari kehidupan, kalau kata Bill Shankly, lebih penting dari sekadar urusan hidup dan mati. Berat.

Tapi, meski sepakbola sekarang sudah mencakup aspek kehidupan yang lebih luas, tetap saja selalu ada pengibar-pengibar bendera offside yang berusaha untuk membuat sepakbola tetap menjadi sepakbola, tak melulu berkaitan dengan aspek-aspek yang lain. Hal ini begitu lazim dirasakan oleh orang-orang awam, kala mereka tidak bisa berbicara banyak mengenai sepakbola karena banyak pengibar bendera offside di sekitar mereka. Pelatih berlisensi KNVB itu misalkan. Sad...

Bergerak dari kerisauan akan hal tersebut, dan karena kami juga merasa bahwa kami ini orang-orang awam perihal sepakbola, maka, kami memutuskan untuk menciptakan blog hamblah-hamblah dan tidak jelas ini. Kami ingin bahwa, pendapat kami mengenai sepakbola di sekitar kami tidak dibatasi oleh bendera offside yang terkibar dari lengan orang lain.

Kami, sebagaimana para pundit yang kerap berkomentar di TV (kesukaan saya Binder Singh loh. Seriusan), juga ingin berkomentar perihal sepakbola yang sekarang sudah begitu luas dan tidak terpatok pada 100 m x 75 m saja. Kami juga ingin berkelakar mengenai sepakbola tanpa terhalangi oleh sekat-sekat tertentu, karena berdasarkan UUD 1945 pasal 28, negara ini membolehkan para warganya untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Akhir kata, semoga para pengunjung bendera-offside.blogspot.com ini bisa sedikit terhibur dengan kelakar-kelakar kami mengenai sepakbola. Izinkanlah kami di sini, menjadi pengibar bendera offside kami sendiri. Berpendapat dengan gaya dan ciri khas kami sendiri, meski kami awam yang, bahkan belum memiliki lisensi kepelatihan sama sekali.

Selamat menikmati isi-isi dari blog kami, dan semoga kalian terhibur, atau pun tercerahkan (saya yakin tidak) dengan kelakar-kelakar dari kami di blog ini.

Shalom dari wilayah Gegerkalong Girang

SF dan BM