Kalau boleh jujur, tulisan ini seharusnya saya post back date saja ke bulan April 2017. Bayangkan, bung, hari ini saja sudah Mei 2025 (dan aing masih kieu-kieu keneh) namun entah kenapa pagi ini saya merasa pernah menulis remeh temeh mengenai cocoklogi antara Mas Har dan Mas Che, duo mas-mas intinamah.
Ternyata benar, saya pernah menulis ini di kanal FourFourtwo Indonesia namun sayangnya web page-nya hilang dan tak bisa diakses lagi. Beruntung, saya masih menyimpan arsip tulisan kasarnya di hardisk laptop zaman hebeul ini...
Sejujurnya sih, saya mencari tulisan ini karena muncul niat lagi menulis dengan pola yang mirip. Apalagi kalau bukan cocoklogi. Yak, lagi-lagi komparasi remeh-temeh antara pemain Persib dan Barcelona.
Langsung aja weh lah ya, da ini mah cuma arsip saja...
***
Sore yang cukup sejuk di tengah pekan itu, tepatnya tanggal 30 November 2016 lalu, saya (bersama rekan karib saya) berkesempatan untuk menyaksikan langsung laga kandang Persib Bandung versus Perseru Serui dalam lanjutan kompetisi (tak resmi) ISC A musim 2016 lalu. Saya tak berharap lebih dari suasana tribun, dan hanya berharap poin penuh aja untuk tuan rumah. Karena sangat mudah difahami, selain jadwal pertandingan yang ada di hari kerja (weekday), lawan yang dihadapi pun mungkin hanyalah Perseru saja.
Persib yang dalam perjalannya selama ISC A tak pernah kalah di kandang, saat itu menjamu sang lawan yang sama-sama jago kandang. Sang lawan, Perseru, tercatat juga sebagai tim yang tak pernah kalah di kandang selama ISC A 2016. Pertandingan berjalan cukup menarik. Duet Marcos Flores di posisi playmaker dan Febri ‘Bow’ Hariyadi di sisi sayap menjadi sajian utama hari itu.
Duduk menonton dari tribun timur stadion Si Jalak Harupat membuat saya leluasa untuk mengamati jalannya pertandingan sekaligus bersorak meski stadion tak terlalu terisi banyak. Persib bermain cukup taktis sore itu. Enam gol berhasil dilesakkan armada Maung Bandung dan dibalas dua gol oleh tamunya, Perseru. Namun, gol terakhir (keenam) Persib terasa sangat spesial meski hanya didapat dari titik penalti.
Saat Persib sudah di atas angin dan mendapatkan hadiah penalti, seisi tribun berteriak “Hariono, Hariono, Hariono” berulang-ulang seperti memaksa pemain asal Sidoarjo tersebut untuk mengambil hadiah tendangan penalti tersebut. Maklum saja, selain sebelumnya Hariono belum pernah mencetak gol untuk Persib di sebuah pertandingan yang bukan uji tanding, ia juga kerap menolak jika diberikan tugas algojo penalti oleh rekan-rekannya di laga-laga sebelumnya saat Persib sudah ada di atas angin.
![]() |
| Tah aslina bro asup web FFT ID baheula |
Toni Sucipto yang menyadari keriuhan tribun akhirnya mendatangi dan menyeret mas Har, sapaan akrab Hariono untuk mengambil penalti tersebut. Kemudian, sejarah pun tercipta. Setelah melewati selama 100 bulan, 235 pertandingan, 1 gelar juara Liga, 8 musim dan 19102 menit bermain bagi Maung Bandung, mas Har akhirnya mencetak golnya juga. Tak ada selebrasi berlebihan darinya.
“Ya, patut disyukuri semua itu karena permintaan semuanya, pemain, pelatih, official bahkan seluruh stadion meneriakkan nama saya, saya dengar, Alhamdulillah bisa menjalankan,” ujar mas Har, seperti dinukil dari laman Simamaung.
Meloncat menuju 148 hari kemudian, ada momen serupa yang terjadi di daratan Eropa sana. Tepat pada laga tengah pekan La Liga (jornada ke 34), pertandingan antara Barcelona dan Osasuna di gelar di Camp Nou. Tuan rumah yang baru saja membawa kemenangan atas Real Madrid beberapa hari sebelumnya jelas diunggulkan dari Osasuna yang berada di kubangan degradasi. Pertandingan yang biasa, di hari yang biasa pula sebenarnya.
Saya yang merupakan penikmat La Liga seperti biasa hadir tepat waktu di depan televisi yang sudah dinyalakan terlebih dahulu tentunya. Seperti apa yang saya pikirkan saat menonton Persib vs Perserui lalu, saya tak berharap banyak. Tripoin saja cukup untuk terus menjaga asa juara liga musim ini.
Luis Enrique yang melakukan rotasi di beberapa sektor cukup dimaklumi karena jarak main antara pertandingan pekan ini cukup padat. Lagipula, mungkin yang dihadapi hanyalah Osasuna, di Camp Nou pula. Tripoin seharusnya bisa aman di laga tersebut.
Liukan-liukan Lionel Messi, umpan-umpan Sergio Busquets serta permainan mengurung a la Blaugrana ditunjukkan dengn cukup sempurna malam itu. Babak pertama pun berakhir 2-0 untuk keunggulan tuan rumah. Lionel Messi dan Andre Gomes menjadi aktor dari dua gol tersebut.
Pada babak kedua, Osasuna sempat membalas di awal pertandingan. Namun itu tak ada artinya sama sekali karena Barca ternyata membalas dengan lima gol tambahan. Skor 7-1 menjadi hasil akhir dari pertandingan. Sesuai prediksi, El Barca akan mudah mengatasi tamunya tersebut.
Namun, lagi-lagi seperti apa yang terjadi saat saya menonton langsung gol Hariono di pertandingan Persib vs Perseru, ada kejadian persis sama layaknya de javu. Mascherano yang belum pernah mencetak gol untuk Barca pun akhirnya didesak untuk mengambil penalti. Gol keenam Barca dan sejarah pun tercipta. Rekan-rekan Mascherano di bangku cadangan pun turut berbahagia.
“Aku sebenarnya ingin mengambil tendangan penalti tersebut,” ujar Ivan Rakitic saat wawancara pasca pertandingan. “Namun, (Gerard) Pique bilang padaku untuk memberikan penati tersebut kepada masche dan ia benar, kau harus mendengar apa yang presiden (Pique) katakan,” sambung Ivan.
Pique, sebagai partner lini belakang Mascherano di lini belakang tentu tahu betul dengan rekannya terebut. Sebagai catatan tambahan saja, ini adalah gol pertamanya sejak melewati 319 pertandingan, delapan musim, berbagai trofi dan enam gol bunuh diri di Barca.
Iya, bunuh diri. Gol bunuh diri Masche memang lebih banyak daripada ia menjebol gawang lawan. Ia juga tercatat terakhir kali menjebol gawang lawan (vs Reading) yaitu tujuh tahun lewat 60 hari yang lalu saat masih berseragam Liverpool.
“Gol (perdana) tersebut lebih bisa dibilang sebagai tanda kasih sayang dari para fans dan rekan pemain untuk saya,” ujar Masche kepada LaTDP. “Sebenarnya itu bukan sesuatu yang mengganguku, namun jika semua orang bersikeras untuk menyuruhku mengambil penalti, maka hal tersebut takbisa kutolak,” sambung pemain tim nasional Argentina tersebut.
Kebetulan-kebetulanatau bisa dibilang cocoklogi ini memang luar biasa. Coba bandingkan saja, Hariono dan Mascherano sama-sama kerap bermain di posisi gelandang bertahan (meski Masche sering dipasang sebagai bek tengah), kemudian Hariono dan Mascherano sama-sama mencetak gol pertamanya di klub saat ini yang ia bela (Persib dan Barca) lewat titik penalti dan sama-sama di gol keenam. Kemudian total gol yang tercipta di pertandingan tersebut (Persib vs Perserui dan Barca vs Osasuna) adalah sama sama delapan gol (6-2 dan 7-1).
Masih kurang cocokloginya?
Kedua pemain ini sama-sama mencetak gol perdananya data bermain di kandang (Si Jalak Harupat dan Camp Nou) kemudian keduanya juga sama-sama mencetak gol di laga weekday, bukan weekend. Harinya? Mereka sama-sama mencetak gol di hari rabu (meski saat saya menonton gol Mascherano, di Indonesia sudah masuk kamis dini hari, sih).
Dan yang paling penting, kedua pemain ini sama-sama mempunyai nama akhiran ‘no’. HarioNO dan MascheraNO.


No comments:
Post a Comment