18 May 2025

Ketika Mas-mas dari Belanda Harus Belajar dari Indonesia


Ini dia tulisan yang aing maksud ketika mengunggah ulang tulisan "Cocoklogi: Ketika Mascherano Menjadi Hariono" beberapa hari lalu. Tujuannya karena memang lagi terinspirasi buat bikin cocoklogi komparasi lagi antara pemain Persib dan Barcelona.  

Oh iya euy, ieu aing nulis terakhir kali 2022, tepat setelah merayakan Lionel Messi juara Piala Dunia di Qatar. Setelahnya aing terlalu sibuk jadi bucin yang tak berkesudahan walaupun ya begitu deh~

Co-owner blog ini, bapak Sandy Firdaus a.k.a Sonay sesekali saya lihat sibuk menjadi pewarta yang wara-wiri ke pelbagai penjuru nusantara. Madep mang. Iraha yah bisa bersua lagi?

Yuk ah langsung aja simak. Serada serius saeutik ieumah tulisanna. Semoga on context keneh yaks. 

***

Saat gol (gagal) Fermin Lopez ke gawang Thibaut Courtois dirayakan secara meledak-ledak oleh para pemain dan suporter di Montjuic, seluruh pemain berlari ke tribun belakang gawang stadion untuk membaur haru satu dengan yang lainnya. Namun tak jauh dari keriuhan, ada momen luar biasa yang terekam kamera; Frenkie De Jong berpelukan dengan ayahnya di tribun dengan mencerminkan perasaan bahagia yang luar biasa.

Frenkie tampak lega, beban berat ban kapten di lengan kirinya itu berhasil ia emban saat timnya sukses unggul laga klasik melawan sang rival abadi, Real Madrid. Padahal berbulan-bulan sebelumnya, ia menjadi pesakitan dan dipaksa keluar klub oleh para penggemar. Relevansi nasib Frenkie yang juga ternyata sedikit banyak beririsan nasib apa yang terjadi dengan Kim Kurniawan.

Konteksnya, ada nasib-nasib yang sama tapi tak serupa. Ada juga kebetulan-kebetulan yang tampaknya bisa ditelisik. Sang gelandang asal Belanda itu tampaknya harus melihat apa yang sudah dilewati Kim selama berseragam Persib beberapa tahun silam.

Sejujurnya, menuliskan hal ini momentumnya sudah agak terlewat namun belum terlalu basi juga untuk sekadar menjadi cerita dan bahan bakar perdebatan di sosial media. Toh, baik suporter Barcelona dan juga Bobotoh Persib juga sedang bahagia-bahagianya.

***

Tepat di awal bulan Mei 2016 silam, segelintir Bobotoh Persib hadir di sesi latihan rutin tim kesayangannya dengan cukup menghebohkan jagad media sosial. Mereka dengan berani membentangkan spanduk bertuliskan “Ada Apa Dengan Kim, Coach Dejan?” sebagai ungkapan kekecewaan Bobotoh terhadap kondisi saat itu.

Di masanya, Kim disebut-sebut sebagai “Anak Emas” dari pelatih Dejan Antonic semenjak keduanya membela Pelita Bandung Raya di kurun 2013-2014. Kerja sama keduanya berlanjut saat Persib menunjuk Dejan sebagai pelatih Maung Bandung. Keyakinan Coach Dejan memainkan Kim secara reguler meski tak optimal menjadi banyak pertanyaan para Bobotoh meski ada pemain tengah lain yang dianggap lebih baik saat itu.

Soal cacian, kritik dan sindirian sebenarnya tak kurang-kurang diterima oleh pemain keturunan Jerman-Indonesia tersebut baik di dunia maya atau secara langsung di sesi latihan dan pertandingan. Namun apa respon Kim? Tetap bekerja keras dan tak banyak bicara. Singkat cerita, perjalanan lima tahun Kim tercatat bak layaknya roller coaster; dari bulan-bulanan sampai menjadi pujaan. Mentalitas luar biasa ditunjukkan oleh Kim Seperti kata pepatah yang terkenal di tengah kultur sepakbola Bandung, ia “besar oleh cacian, karena pujian adalah racun!”.

"Sepak bola itu hidup kita, pujian dan hinaan ya hal yang biasa. Bagi saya sebenarnya yang penting apa yang saya pikirkan apakah saya puas dengan penampilan dan sesuai dengan yang pelatih pikirkan," kata Kim, seperti dikutip dari laman Liga Indonesia Baru.

"Diluar itu ya orang punya pendapat positif dan negatif, itu hal normal. Kita sebagai pemain akan merasa lebih baik kalau mendapat pujian atau hinaan itu," imbuhnya.



Jika iklim sepakbola Bandung dan Bobotoh yang cukup terbiasa dengan otokritik baik ke pemain, pelatih atau manajemen klub, maka Kim sudah melewatinya dengan baik, bahkan sangat baik. Saya tentu tidak bisa menyamakan kultur suporter di Bandung dan Katalan. Tapi setidaknya ada satu atau dua hal yang bisa dipelajari Frenkie dari Kim agar bisa terlepas dari pelbagai cemoohan yang ia terima dari para suporter Barcelona di beberapa musim terakhir ini.

"Siulan untuk Frenkie de Jong? Saya sudah jelas mengenai hal ini, saya lebih senang  jika para penggemar mendukung semua pemain,” ungkap entrenador Barcelona, Hansi Flick pasca timnya menghadapi Stade Brest di ajang Liga Champions Eropa.

Siulan-siulan yang silih berganti, cemoohan, dan hujatan menjadi pemandangan yang harus diingat betul oleh Frenkie. Namun masalahnya, mengubah hal-hal tersebut untuk mengonversinya menjadi bahan bakar semangat dirinya saat bermain jelas bukan perkara mudah. Semuanya tentang mentalitas. Kini memang sudah mulai agak membaik, namun jangan lupa, ia akan terus ditagih konsistensi performanya sebagai salah satu penerima gaji terbesar di skuad Blaugrana saat ini.

Namun bukan orang Belanda jika tidak mewarisi darah koppig (keras kepala) di nadinya. Frenkie pernah membuat geram para fans perihal silang sengkarut kontrak dan gajinya ini. Pernah sekali waktu, beberapa suporter Barceona mencegat Frenkie di pintu masuk kompleks latihan Ciutat Esportiva Joan Gamper tahun 2022 lalu sambil berteriak "Potong gaji kau, dasar sialan!."


Selain isu gaji, ada juga isu kontrak dan isu cedera panjang. Musim sebelumnya, ia (dan juga pasangannya) pernah dikabarkan menolak tawaran Manchester United karena ketidakcocokan iklim disana. Padahal, saat itu Barca dianggap harus menjual pemain demi memperbaiki neraca keuangan yang kolaps dalam beberapa tahun terakhir.

Ia pernah angkat suara soal kegusarannya di awal 2025 ini. "Orang-orang berpikir bahwa saya ingin bertahan di Barcelona selamanya karena kehidupan di luar sepak bola di sini sangat bagus, dan itu memang benar, tetapi itu masih kurang penting dibandingkan dengan apa yang terjadi di lapangan. Jika saya merasa tidak bisa memberikan kontribusi yang cukup, atau jika tim tidak bisa bersaing, saya akan hengkang, ungkapnya.

Frenkie saat ini hanya perlu bekerja jauh lebih keras dari biasanya, jauh lebih giat dari biasanya dan ia perlu berlari lebih banyak di lapangan ketimbang pemain lainnya. Ia punya potensi itu dan sekali lagi, ia harus membuktikannya di lapangan secara konsisten sebagaimana Kim Kurniawan sukses melakukannya bersama Persib.

Apalagi dengan statusnya sebagai salah satu kapten tim, sudah waktunya juga ia menjadi pengayom para pemuda La Masia yang kini mayoritas menghuni jejeran skuat Blaugrana. Tugasnya kini berlipat-lipat ganda; menjadi orkestrator lini tengah timya, ditambah mengayomi “adik-adiknya”, ditambah menjadi orang terdepan saat tim membutuhkannya.

Ia sudah menunjukannya dalam beberapa laga terakhir dan seharusnya itu bukan menjadi yang terakhir. Ia harus menjadikannya rutinitas, sampai akhirnya di akhir cerita semua orang sepakat bahwa Frenkie mengalami fase character development yang positif di bawah Hansi Flick layaknya narasi seorang pahlawan di sinema fiksi.

***

Adagium lama “worth every penny” atau dalam bahasa kita sering disebut “ada harga ada kualitas” tampaknya masih menjadi patokan siapapun dalam menilai apapun, tak terkecuali para pesepakbola moderen saat ini, termasuk Frenkie.

Ia kini ada di persimpangan, ia akan memilih bekerja keras dan menjadi pujaan seluruh suporter layaknya Kim Kurniawan atau ia akan berpaling ke jalur deretan para pemain gagal dengan gaji dan transfer termahal di sejarah klub? Biarlah Frenkie yang menentukan.

Urusan kebutuhan taktik baik dengan atau tanpanya di lapangan, biarkan juga urusan pelatih yang menilainya. Kita-kita ini siapalah jika dibanding Hansi Flick yang pernah meraih treble dalam perihal taktik atau siapa kita juga jika dibanding dengan Joan Laporta dalam urusan manajemen dan keuangan klub.

Jadi, biarkan Frenkie menentukan nasibnya sendiri agar bisa memenuhi ekspektasi harga, gaji dan kemampuannya agar berbanding lurus dengan kesempatan bermainnya di lapangan, apalagi dirinya kini setelah sukses membawa Barcelona sapu bersih tiga gelar domestik musim ini, ia akan diperpanjang kontraknya oleh manajemen untuk beberapa musim mendatang. 



 

No comments:

Post a Comment