Halo pembaca sekalian! Berjumpa lagi dengan saya Mr. Firdaus alias kontributor tercinta sekaligus ngehe dari blog yang tak jelas juntrungannya ini. Setelah sempat vakum beberapa waktu menulis di blog yang saya ciptakan bersama Zakky BM ini (sebenarnya Zakky sih yang bikin, saya nyumbang kopi satu gelas aja), saya seperti ingin kembali mencurahkan ide keblinger dan aneh saya perihal tentang sepakbola. Kali ini, mari kita berbicara tentang move on, sesuatu yang gampang diungkapkan namun susah untuk dilakukan. Uhuk.
Okee, mari kita mulaii. Enk Ink Enk!!!!
Masalah cinta adalah masalah yang universal sekaligus evergreen, everlasting, dan sifatnya timeless, enak buat dibicarakan dari waktu ke waktu sembari menyeruput kopi hangat diiringi oleh satu batang
atau satu bungkus rokok Dji Sam Soe. Ia juga enak dibicarakan kapan saja, baik itu pagi, siang, sore (senja we lah, meh rada sastrais salon gitu), dan juga malam hari. Tempat mana pun untuk membicarakan hal itu (cinta) merupakan tempat yang tepat. Tapi, ada baiknya coba di angkringan, warkop, atau ketika naik gunung (anjir tau banget), niscaya lebih syahdu dan lebih afdol rasanya.
Diselingkuhin, mengejar tak dapat-dapat, sampai putus dengan kekasih adalah bumbu-bumbu cinta yang layak untuk diperbincangkan kepada khalayak masyarakat. Jika film Into The Wild bilang bahwa happiness is real when shared, maka bisa juga dianggap bahwa sadness is real when shared. Ia akan menjelma kesedihan jika dibagikan kepada orang-orang, dan, yang paling sering dibagikan adalah perihal sulitnya untuk move on dari satu gadis yang kadung sudah dicintai sepenuh hati, (ane faham hal itu kok, ente tenang aja).
Move on, seperti yang sudah diungkapkan di atas, adalah sesuatu yang mudah untuk dikatakan tapi sulit untuk dilakukan. Ejawantah dari ungkapan move on, menurut hemat saya, juga menurut pengalaman saya, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang khususon dan terpilih, bukan orang sembarangan. Ia berani menanggalkan masa lalu, yang mungkin saja indah, dan beralih maju meraih masa depan yang masih berupa misteri. Saya banyak melihat orang-orang seperti itu, dan saya seolah ingin angkat celana melihat perjuangan mereka dalam melawan masa lalu yang menggurat dalam batin dan pikiran mereka.
Namun, masalah bagaimana mengejawantahkan move on ini tidak hanya banyak dilakukan oleh orang-orang di sekitar saya. Anda tahu Paul Pogba? Yap, betul. Pemain yang beberapa bulan ke belakang sempat menjadi bahan pembicaraan karena mega (atau tera?) transfer yang membuatnya masuk ke dalam deretan pemain termahal. Manchester United, klub masa remaja Pogba, berani menggelontorkan uang sampai kisaran 90an juta paun untuk memulangkan anak yang merantau selama kurang lebih empat tahun-an lah (kalo ga salah yee) ke tanah Turin di Italia.
Ini dia sosok Pogba yang dibicarakan itu. Tamvan!
Nah, masalah dimulai dari sini. Awal kedatangan Pogba ke United, orang-orang tentu berekspektasi tinggi kepada pemuda asal Prancis ini. Harga mahal, juga penampilan di Juve dan bersama timnas Prancis yang menjanjikan (dia main di Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016 loh, jangan salah) membuat ia digadang-gadang menjadi penguat lini tengah United yang memble, keropos, dan klemer-klemer sejak ditinggal Paul Scholes. Debutnya di United pun seakan menegaskan ekspektasi publik kala ia mampu mengantarkan United menang atas Southampton (lupa ane skornya berapa).
Perlahan, penampilan Pogba bukannya meningkat, tapi semakin hari malah semakin menurun. Menurunnya performa Pogba ini berimbas kepada penampilan United yang juga carut marut, acak adut. Mereka kalah tiga kali berturut-turut, dimulai dari kekalahan atas Manchester City, dilanjutkan dengan kekalahan dari Feyenoord, lalu dihancurluluhlantakbubuktakbersisa oleh Watford. Dalam tiga pertandingan tersebut, Pogba tidak tampil maksimal.
Spekulasi pun mulai bermunculan. Ada yang menyalahkan Mourinho yang tak becus menempatkan Pogba, ada juga yang menyalahkan Pogba sendiri, menilai bahwa ia tidak mampu cepat beradaptasi dengan Liga Primer Inggris yang lebih unggul dalam segi kecepatan dari Serie A Italia. Intinya, Pogba tampil mengecewakan.
Tapi, saya juga punya spekulasi saya sendiri. Masih melempemnya penampilan Pogba saat itu mungkin karena ia masih belum bisa move on, mungkin saja loh ya. Pasalnya, ketika di Juve, ia ditemani dan diasuh oleh pemain-pemain kenamaan macam Pirlo, Vidal, Marchisio, ataupun Tevez. Mungkin juga, ketika ia mengumpan ke Carrick, ia seperti mengumpan ke Pirlo. Atau ketika ia mengumpan ke Fellaini, ia seperti mengumpan ke Vidal. Atau juga, ketika ia mengumpan ke Rooney, ia seperti mengumpan ke Tevez. Padahal itu hanya khayalan semu belaka, karena mereka adalah pemain yang berbeda.
Usut punya usut bin selidik punya selidik, ternyata loker Pogba di Juventus masih menyisakan barang-barang miliknya. Bisa jadi ini adalah penyebab kenapa Pogba begitu klemer-klemer dalam beberapa pertandingan bersama United. Akhirnya, Mou pun memberikan kesempatan kepada Pogba untuk kembali ke Turin, mengepak barang-barang yang masih tertinggal, dan mungkin juga berpamitan kepada orang-orang yang belum terpamiti olehnya karena usai Piala Eropa 2016, ia kabarnya langsung terbang ke Manchester (kabarnya loh ya).
Meski cuma satu hari diberikan kesempatan untuk pulang, nyatanya kesempatan itu dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Pogba. Ia kembali ke Turin (bukan pulang), dan itu menjadi kejutan bagi orang-orang di sana. Semua tak menyangka Pogba akan kembali, dan yang tahu hanya Evra seorang. Di Turin, ia mengepak barang-barang yang masih ada di lokernya di Juve, lalu memberikan berondongan jam Rolex kepada para staf dan manajemen Juve, bahkan sampai ke staf-staf yang sifatnya remeh-temeh seperti kitman (maaf yah, karena pekerjaan apapun di sana sebenarnya dihargai). Ia berpamitan dengan Juventus, dan akhirnya segera kembali ke Manchester karena MU akan menjalani pertandingan liga melawan Leicester City.
Pogba pun kembali lagi ke Manchester untuk bekerja. Coba tebak apa yang terjadi? Dalam pertandingan melawan Leicester, ia tampil begitu ganas. Pergerakannya di lapangan menjadi begitu lincah dan bebas. Ia tidak lagi tampil klemer-klemer, tapi tampil bak salah satu gelandang tengah terbaik yang ada di dunia. Bahkan, Pogba sanggup mencetak gol perdananya untuk United pada pertandingan tersebut. Wow! Super sekali! Salam Super, Djarum Super.
Rupa-rupanya, selesainya urusan Pogba di Juve adalah satu dari sekian alasan logis yang membuat Pogba dapat tampil spartan bersama United dalam pertandingan tersebut. Pemain yang juga merupakan Muslim ini mempraktekkan bentuk dari move on yang nyata, dan tidak abal-abal belaka (seperti penulis). Ia membereskan barang-barangnya di Juve, lalu memutuskan untuk move on bersama United dan meraih mimpi-mimpi yang mungkin belum tercapai. Hasilnya ia mampu memgeluarkan kemampuannya, dan mengantarkan United lepas dari krisis dan olok-olok kekalahan tiga laga berturut-turut.
Apa yang dilakukan oleh Pogba ini dapat menjadi contoh bagi khalayak ramai dan hamblah-hamblah seperti kita (kita? loe aja kali). Jika memang ingin bergerak maju, bereskan masa lalu anda dan jangan mengingat-ingat lagi hal tersebut. Meski sulit, jika berniat untuk melakukannya, hal tersebut akan mudah untuk diperbuat. Pogba dapat bergerak maju setelah menanggalkan masa lalunya di Juve yang indah, dan sekarang sudah memutuskan untuk maju bersama Manchester United. Ia melakukannya secara kaffah, tidak setengah-setengah alias tanggung. Pogba melakukannya secara menyeluruh.
**
Sepakbola tidak akan pernah kehabisan pesan moral, seperti halnya karya sastra dan seni yang kerap menyembunyikan pesan moral di balik keindahan yang terpapar. Kisah-kisah humanis dari balik sepakbola, juga pelbagai kejadian yang menyentuh hati akan selalu ada, selama manusia masih hidup dan masih menendang bola. Pertemuan dan perpisahan, maju dan mundur, dinamika itu akan ada juga dalam sepakbola. Maka, penting kiranya bagi kita untuk memetik pelajaran dari sana, karena bisa jadi pelajaran yang sama tidak akan muncul lagi.
Terima kasih atas pesannya Pogba. Pesan ini sudah saya terima secara pribadi
Insya Alloh, saya akan move on!
*by: Sandy 'Sonay' Firdaus


Jir geningan ujung-ujungnya bola dan ternyata masih ada yang pake kata "mengejawantahkan" selain akuuuu 😂😂😂😂😂
ReplyDeleteoh iya teh kan itu bahasa yang ada di KBBI, jadi dipake, hehe. Terimakasih sudah membaca, :)
Delete