Ini dia tulisan yang aing maksud ketika mengunggah ulang tulisan "Cocoklogi: Ketika Mascherano Menjadi Hariono" beberapa hari lalu. Tujuannya karena memang lagi terinspirasi buat bikin cocoklogi komparasi lagi antara pemain Persib dan Barcelona.
Oh iya euy, ieu aing nulis terakhir kali 2022, tepat setelah merayakan Lionel Messi juara Piala Dunia di Qatar. Setelahnya aing terlalu sibuk jadi bucin yang tak berkesudahan walaupun ya begitu deh~
Co-owner blog ini, bapak Sandy Firdaus a.k.a Sonay sesekali saya lihat sibuk menjadi pewarta yang wara-wiri ke pelbagai penjuru nusantara. Madep mang. Iraha yah bisa bersua lagi?
Yuk ah langsung aja simak. Serada serius saeutik ieumah tulisanna. Semoga on context keneh yaks.
***
Saat gol
(gagal) Fermin Lopez ke gawang Thibaut Courtois dirayakan secara meledak-ledak
oleh para pemain dan suporter di Montjuic, seluruh pemain berlari ke tribun
belakang gawang stadion untuk membaur haru satu dengan yang lainnya.
Namun tak jauh dari keriuhan, ada momen luar biasa yang terekam kamera; Frenkie
De Jong berpelukan dengan ayahnya di tribun dengan mencerminkan perasaan
bahagia yang luar biasa.
Frenkie
tampak lega, beban berat ban kapten di lengan kirinya itu berhasil ia emban
saat timnya sukses unggul laga klasik melawan sang rival abadi, Real Madrid.
Padahal berbulan-bulan sebelumnya, ia menjadi pesakitan dan dipaksa keluar klub
oleh para penggemar. Relevansi nasib Frenkie yang juga ternyata sedikit banyak beririsan
nasib apa yang terjadi dengan Kim Kurniawan.
Konteksnya,
ada nasib-nasib yang sama tapi tak serupa. Ada juga kebetulan-kebetulan yang
tampaknya bisa ditelisik. Sang gelandang asal Belanda itu tampaknya harus
melihat apa yang sudah dilewati Kim selama berseragam Persib beberapa tahun
silam.
Sejujurnya,
menuliskan hal ini momentumnya sudah agak terlewat namun belum terlalu basi
juga untuk sekadar menjadi cerita dan bahan bakar perdebatan di sosial media. Toh,
baik suporter Barcelona dan juga Bobotoh Persib juga sedang bahagia-bahagianya.
***
Tepat di
awal bulan Mei 2016 silam, segelintir Bobotoh Persib hadir di sesi latihan rutin tim kesayangannya
dengan cukup menghebohkan jagad media sosial. Mereka dengan berani
membentangkan spanduk bertuliskan “Ada Apa Dengan Kim, Coach Dejan?” sebagai
ungkapan kekecewaan Bobotoh terhadap kondisi saat itu.
Di masanya, Kim disebut-sebut sebagai “Anak Emas” dari pelatih Dejan Antonic semenjak keduanya membela Pelita Bandung Raya di kurun 2013-2014. Kerja sama keduanya berlanjut saat Persib menunjuk Dejan sebagai pelatih Maung Bandung. Keyakinan Coach Dejan memainkan Kim secara reguler meski tak optimal menjadi banyak pertanyaan para Bobotoh meski ada pemain tengah lain yang dianggap lebih baik saat itu.
Soal cacian, kritik dan sindirian sebenarnya tak kurang-kurang diterima oleh pemain keturunan Jerman-Indonesia tersebut baik di dunia maya atau secara langsung di sesi latihan dan pertandingan. Namun apa respon Kim? Tetap bekerja keras dan tak banyak bicara. Singkat cerita, perjalanan lima tahun Kim tercatat bak layaknya roller coaster; dari bulan-bulanan sampai menjadi pujaan. Mentalitas luar biasa ditunjukkan oleh Kim Seperti kata pepatah yang terkenal di tengah kultur sepakbola Bandung, ia “besar oleh cacian, karena pujian adalah racun!”.
"Sepak bola itu hidup kita, pujian dan hinaan ya hal yang biasa. Bagi saya sebenarnya yang penting apa yang saya pikirkan apakah saya puas dengan penampilan dan sesuai dengan yang pelatih pikirkan," kata Kim, seperti dikutip dari laman Liga Indonesia Baru.
"Diluar itu ya orang punya pendapat positif dan negatif, itu hal normal. Kita sebagai pemain akan merasa lebih baik kalau mendapat pujian atau hinaan itu," imbuhnya.
Jika iklim sepakbola Bandung dan Bobotoh yang cukup terbiasa dengan otokritik baik ke pemain, pelatih atau manajemen klub, maka Kim sudah melewatinya dengan baik, bahkan sangat baik. Saya tentu tidak bisa menyamakan kultur suporter di Bandung dan Katalan. Tapi setidaknya ada satu atau dua hal yang bisa dipelajari Frenkie dari Kim agar bisa terlepas dari pelbagai cemoohan yang ia terima dari para suporter Barcelona di beberapa musim terakhir ini.
"Siulan untuk Frenkie de Jong? Saya sudah jelas mengenai hal ini, saya lebih senang jika para penggemar mendukung semua pemain,” ungkap entrenador Barcelona, Hansi Flick pasca timnya menghadapi Stade Brest di ajang Liga Champions Eropa.
Siulan-siulan
yang silih berganti, cemoohan, dan hujatan menjadi pemandangan yang harus
diingat betul oleh Frenkie. Namun masalahnya, mengubah hal-hal tersebut untuk
mengonversinya menjadi bahan bakar semangat dirinya saat bermain jelas bukan
perkara mudah. Semuanya tentang mentalitas. Kini memang sudah mulai agak membaik,
namun jangan lupa, ia akan terus ditagih konsistensi performanya sebagai salah
satu penerima gaji terbesar di skuad Blaugrana saat ini.
Namun bukan
orang Belanda jika tidak mewarisi darah koppig (keras kepala) di nadinya. Frenkie pernah membuat
geram para fans perihal silang sengkarut kontrak dan gajinya ini. Pernah sekali
waktu, beberapa suporter Barceona mencegat Frenkie di pintu masuk kompleks
latihan Ciutat Esportiva Joan Gamper tahun 2022 lalu sambil berteriak "Potong gaji kau, dasar sialan!."
Selain isu gaji, ada juga isu kontrak dan isu cedera panjang. Musim sebelumnya, ia (dan juga pasangannya) pernah dikabarkan menolak tawaran Manchester United karena ketidakcocokan iklim disana. Padahal, saat itu Barca dianggap harus menjual pemain demi memperbaiki neraca keuangan yang kolaps dalam beberapa tahun terakhir.
Ia pernah
angkat suara soal kegusarannya di awal 2025 ini. "Orang-orang
berpikir bahwa saya ingin bertahan di Barcelona selamanya karena kehidupan di
luar sepak bola di sini sangat bagus, dan itu memang benar, tetapi itu masih
kurang penting dibandingkan dengan apa yang terjadi di lapangan. Jika saya merasa tidak bisa
memberikan kontribusi yang cukup, atau jika tim tidak bisa bersaing, saya akan hengkang,” ungkapnya.
Frenkie
saat ini hanya perlu bekerja jauh lebih keras dari biasanya, jauh lebih giat
dari biasanya dan ia perlu berlari lebih banyak di lapangan ketimbang pemain
lainnya. Ia punya potensi itu dan sekali lagi, ia harus membuktikannya di
lapangan secara konsisten sebagaimana Kim Kurniawan sukses melakukannya bersama
Persib.
Apalagi
dengan statusnya sebagai salah satu kapten tim, sudah waktunya juga ia menjadi
pengayom para pemuda La Masia yang kini mayoritas menghuni jejeran skuat
Blaugrana. Tugasnya kini berlipat-lipat ganda; menjadi orkestrator lini tengah
timya, ditambah mengayomi “adik-adiknya”, ditambah menjadi orang terdepan saat
tim membutuhkannya.
Ia sudah
menunjukannya dalam beberapa laga terakhir dan seharusnya itu bukan menjadi yang
terakhir. Ia harus menjadikannya rutinitas, sampai akhirnya di akhir cerita semua
orang sepakat bahwa Frenkie mengalami fase character development yang positif di
bawah Hansi Flick layaknya narasi seorang pahlawan di sinema fiksi.
***
Adagium
lama “worth every penny” atau dalam bahasa kita sering disebut “ada harga ada
kualitas” tampaknya masih menjadi patokan siapapun dalam menilai apapun, tak
terkecuali para pesepakbola moderen saat ini, termasuk Frenkie.
Ia kini ada
di persimpangan, ia akan memilih bekerja keras dan menjadi pujaan seluruh
suporter layaknya Kim Kurniawan atau ia akan berpaling ke jalur deretan para
pemain gagal dengan gaji dan transfer termahal di sejarah klub? Biarlah Frenkie
yang menentukan.
Urusan
kebutuhan taktik baik dengan atau tanpanya di lapangan, biarkan juga urusan pelatih
yang menilainya. Kita-kita ini siapalah jika dibanding Hansi Flick yang pernah
meraih treble dalam perihal taktik atau siapa kita juga jika dibanding dengan Joan
Laporta dalam urusan manajemen dan keuangan klub.
Jadi,
biarkan Frenkie menentukan nasibnya sendiri agar bisa memenuhi ekspektasi
harga, gaji dan kemampuannya agar berbanding lurus dengan kesempatan bermainnya
di lapangan, apalagi dirinya kini setelah sukses membawa Barcelona sapu bersih tiga gelar domestik musim ini, ia akan diperpanjang kontraknya oleh manajemen untuk beberapa musim mendatang.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1247902/original/053927000_1464446424-5.jpg)

